.
.
Halo.
Saya lupa ngenalin diri saya.
Telat banget.
Oke, saya bener-bener lupaaaaa untuk mengenalkan diri sayaaaa! Saya masih menunggu pengumuman kelulusan dari SMP, jadi katakanlah saya berusia 14-15an. Saya seorang kutu buku, dari buku novel, komik, sampai buku sejarah. Sejarah kan penting untuk membangun masa depan ;)
Saya hobi menulis dan menggambar, meski kadang kalau enggak minat pasti bakal saya delete atau enggak dilanjutin lagi. Suka sama film-film yang ceritanya menurut saya bagus, suka sama anime, suka sama meme, suka sama fakta-fakta yang ada di dunia ini, ehehe.
Ada beberapa blogger yang menginspirasi saya untuk membuat juga. Mereka hebat dalam menumpahkan kata-kata dan saya suka mampir ke blog mereka. Asyik aja sih, dan yap, saya merasa dapat mengerti sedikit pada si penulis.
Nah itu dia perkenalan yang 'sedikit' telat dari saya. Semoga blog ini jadi lebih maju lagi.
Saturday, 18 May 2013
Friday, 17 May 2013
Kopi dan Soda Gembira
.
.
Hari ini aku ingin mengatakan padanya sebelum aku pergi kalau aku mencintainya.
.
.
"Halo, halo."
Kamu tertawa di depanku sekarang. Ternyata lawakan basiku masih mempan juga padamu. Sekarang, aku dan kamu, kita saling duduk berhadapan. Saling menatap dan memperhatikan. Meneliti setiap inci dari anggota tubuh kita masing-masing.
"Halo juga." Giliran aku yang terkikik. Kamu ternyata masih mau membalas lawakan basiku. Tanpa sadar semburat merah itu merekah di pipimu. Ya, kamu yang dulu selalu jadi jagoan di sekolah dan terlihat tampan setiap melangkah. Jemarimu yang lentik memainkan piano dan gitar, bahkan biola, yang tiba-tiba menjadi kasar ketika kamu bermain basket di lapangan belakang sekolah. Tawamu yang renyah dan menggemaskan, membuat para gadis di kelas berteriak dengan riang. Kamu yang nyaris sempurna namun tidak peka atas perasaan. Pantas saja dulu kamu belum punya pacar.
"Pertanyaanku dari dulu sampai sekarang masih sama. Makhluk nyaris sempurna, kamu anak siapa, sih?" Aku memulai pembicaraan ini dengan santai. Ketegangan di wajahmu memudar perlahan dan tergantikan oleh ekspresi yang aku rindukan. Ekspresi sombongmu itu.
"Mungkin sebenarnya aku adalah anak dari Thor, tapi lalu aku dibuang dan jatuh di rumah orang tuaku. Atau sebenarnya orang tuaku itu Athena dan Poseidon yang menyamar. Eh, atau aku ini sebenarnya master piece dari Leonardo Da Vinci yang terkubur dalam es lalu dihangatkan, dan sebenarnya keberadaanku dirahasiakan."
Ya, seperti biasa, kadar mengacaumu di luar ambang batas kewarasan. Aku tertawa-tawa mendengarkan omongan absurdmu. Entah kenapa, mendengarkanmu berbicara membuatku mengenang masa-masa SMP kita. Kamu selalu bicara hal-hal lucu dan garing, namun beberapa saat kemudian kamu menjadi sangat bijaksana dan -kalau boleh kuakui- kamu keren. Rambutmu bisa dibilang rambut standar anak lelaki. Poni samping. Kamu senang sekali meniup-niup ponimu itu. Menggemaskan.
Aku masih ingat waktu kita mengadakan acara pelepasan bersama dengan anak kelas tujuh dan delapan. Kamu berdiri di barisan kelas tujuh dan menyanyikan lagu More Than Word dengan sangat menghayati. Bukan cuma kamu saja yang bernyanyi, masih ada beberapa anak kelas kita ikut berpartisipasi juga, namun semua sadar jika memang kamu yang jadi sorotan.
Hanya saja kamu kurang peka.
"Rambutmu masih aja kriwil-kriwil gitu. Persis mie goreng pinggir jalan." Aku tersenyum. "Menghina atau memuji, ya?" balasku sambil menyeduh kopi hitam di hadapanku. Kamu tertawa. "Dua-duanya. Ya ampun, kamu cewek tapi suka ngopi, ya?"Kamu bertanya sembari meraih gelas dihadapanmu."Iya, daripada kamu, cowok tapi sukanya soda gembira." Seketika itu juga kamu tersedak, dan tentu saja aku tak bisa menutupi gelak tawa melihat ekspresimu.
"Soda gembira itu enak. Kopi itu pahit. Kamu bandingin aja rasanya." ujarmu sambil mengudak-udak soda gembiramu itu dengan sedotan. Sifatmu memang seperti soda gembira. Kamu selalu bahagia, ceria, menyenangkan, namun jika ada hal yang tidak beres, kamu akan memilah-milah dulu, persis seperti soda dan susu serta sirup sebelum dicampur, atau ketika susu dan sirup itu mengendap di bawah.
.
Hari ini aku ingin mengatakan padanya sebelum aku pergi kalau aku mencintainya.
.
.
"Halo, halo."
Kamu tertawa di depanku sekarang. Ternyata lawakan basiku masih mempan juga padamu. Sekarang, aku dan kamu, kita saling duduk berhadapan. Saling menatap dan memperhatikan. Meneliti setiap inci dari anggota tubuh kita masing-masing.
"Halo juga." Giliran aku yang terkikik. Kamu ternyata masih mau membalas lawakan basiku. Tanpa sadar semburat merah itu merekah di pipimu. Ya, kamu yang dulu selalu jadi jagoan di sekolah dan terlihat tampan setiap melangkah. Jemarimu yang lentik memainkan piano dan gitar, bahkan biola, yang tiba-tiba menjadi kasar ketika kamu bermain basket di lapangan belakang sekolah. Tawamu yang renyah dan menggemaskan, membuat para gadis di kelas berteriak dengan riang. Kamu yang nyaris sempurna namun tidak peka atas perasaan. Pantas saja dulu kamu belum punya pacar.
"Pertanyaanku dari dulu sampai sekarang masih sama. Makhluk nyaris sempurna, kamu anak siapa, sih?" Aku memulai pembicaraan ini dengan santai. Ketegangan di wajahmu memudar perlahan dan tergantikan oleh ekspresi yang aku rindukan. Ekspresi sombongmu itu.
"Mungkin sebenarnya aku adalah anak dari Thor, tapi lalu aku dibuang dan jatuh di rumah orang tuaku. Atau sebenarnya orang tuaku itu Athena dan Poseidon yang menyamar. Eh, atau aku ini sebenarnya master piece dari Leonardo Da Vinci yang terkubur dalam es lalu dihangatkan, dan sebenarnya keberadaanku dirahasiakan."
Ya, seperti biasa, kadar mengacaumu di luar ambang batas kewarasan. Aku tertawa-tawa mendengarkan omongan absurdmu. Entah kenapa, mendengarkanmu berbicara membuatku mengenang masa-masa SMP kita. Kamu selalu bicara hal-hal lucu dan garing, namun beberapa saat kemudian kamu menjadi sangat bijaksana dan -kalau boleh kuakui- kamu keren. Rambutmu bisa dibilang rambut standar anak lelaki. Poni samping. Kamu senang sekali meniup-niup ponimu itu. Menggemaskan.
Aku masih ingat waktu kita mengadakan acara pelepasan bersama dengan anak kelas tujuh dan delapan. Kamu berdiri di barisan kelas tujuh dan menyanyikan lagu More Than Word dengan sangat menghayati. Bukan cuma kamu saja yang bernyanyi, masih ada beberapa anak kelas kita ikut berpartisipasi juga, namun semua sadar jika memang kamu yang jadi sorotan.
Hanya saja kamu kurang peka.
"Rambutmu masih aja kriwil-kriwil gitu. Persis mie goreng pinggir jalan." Aku tersenyum. "Menghina atau memuji, ya?" balasku sambil menyeduh kopi hitam di hadapanku. Kamu tertawa. "Dua-duanya. Ya ampun, kamu cewek tapi suka ngopi, ya?"Kamu bertanya sembari meraih gelas dihadapanmu."Iya, daripada kamu, cowok tapi sukanya soda gembira." Seketika itu juga kamu tersedak, dan tentu saja aku tak bisa menutupi gelak tawa melihat ekspresimu.
"Soda gembira itu enak. Kopi itu pahit. Kamu bandingin aja rasanya." ujarmu sambil mengudak-udak soda gembiramu itu dengan sedotan. Sifatmu memang seperti soda gembira. Kamu selalu bahagia, ceria, menyenangkan, namun jika ada hal yang tidak beres, kamu akan memilah-milah dulu, persis seperti soda dan susu serta sirup sebelum dicampur, atau ketika susu dan sirup itu mengendap di bawah.
Wednesday, 8 May 2013
Tuesday, 7 May 2013
Travel Girl
.
.
Yup, memang itu judul dari entri blog saya yang ketiga. Bukan, bukannya saya bakal melakukan traveling ke seluruh penjuru dunia lalu 'ngedan' di sana (boro-boro, pengumuman UN aja belom -_-"). Ya, sebenarnya itu juga menjadi salah satu keinginan saya (semoga saja bisa terwujud), tapi kayaknya belum bisa kesampaian karena saya masih punya satu kewajiban, yaitu sekolah (fuuuuuu-).
Oke, kembali ke topik, ya. Sebenarnya saya ingin membuat webcomic pendek (kalau kemampuan menggambar saya sudah bisa dibilang bagus) tentang traveling. Tapi saya masih perlu banyak riset. Yup, saya belum tahu banyak hal tentang dunia ini, makanya paling tidak saya harus memulai mencari garis besarnya (lol, bahasanya). Ini adalah beberapa quote traveling yang saya sukai (yang cuma saya ko-pas dari google).
Sebenarnya masih banyak lagi yang bagus, tapi ini sepertinya sudah cukup buat menunjukkan betapa tertariknya sama traveling.
.
Yup, memang itu judul dari entri blog saya yang ketiga. Bukan, bukannya saya bakal melakukan traveling ke seluruh penjuru dunia lalu 'ngedan' di sana (boro-boro, pengumuman UN aja belom -_-"). Ya, sebenarnya itu juga menjadi salah satu keinginan saya (semoga saja bisa terwujud), tapi kayaknya belum bisa kesampaian karena saya masih punya satu kewajiban, yaitu sekolah (fuuuuuu-).
Oke, kembali ke topik, ya. Sebenarnya saya ingin membuat webcomic pendek (kalau kemampuan menggambar saya sudah bisa dibilang bagus) tentang traveling. Tapi saya masih perlu banyak riset. Yup, saya belum tahu banyak hal tentang dunia ini, makanya paling tidak saya harus memulai mencari garis besarnya (lol, bahasanya). Ini adalah beberapa quote traveling yang saya sukai (yang cuma saya ko-pas dari google).
Sebenarnya masih banyak lagi yang bagus, tapi ini sepertinya sudah cukup buat menunjukkan betapa tertariknya sama traveling.

Sunday, 5 May 2013
Hari Kemarin
.
.
Kalau aku ingat-ingat, itu pertama kalinya aku melihat senyum itu terukir di wajahmu. Senyum termanis yang pernah aku lihat dalam kamu. Aku tidak bisa mengerti juga, mengapa sejak saat itu aku mulai mencinta dan mendambamu. Kurasa ini tidak salah; tentu saja ini tidak salah. Aku lelaki dan kamu wanita; mana yang salah? Lalu aku menemukan fakta jika kamu bukanlah milikku. Meski kita sudah memupuk berbagai kenangan indah berdua saat kita masih kecil, saat aku mulai menjadi anak jahil di sekolah dan kamu selalu saja menolongku saat ada masalah, saat kamu menangis dan aku ada dan begitu sebaliknya, namun urusan hati siapa yang dapat menduga?
Karena rupanya aku bukanlah pangeranmu, iya`kan?
Karena hanya jika kamu di sisinya kamu dapat tertawa selepas itu, tersenyum dan menangis lebih dari yang aku tahu. Jadi itu kekuatan cinta yang telah menyatu? Bahkan aku merasa tersentuh dan nyaris jadi abu. Dalam hati aku bertanya, apa standarmu terhadap seorang pria? Ia tampan melebihi aku, itu aku mengerti. Ia baik dan tidak jahil, berbanding terbalik denganku`kan? Ia tinggi tegap, sosok idaman para kaum hawa, tidak seperti aku yang berbeda 10 cm dengannya, dengan kacamata yang siap jatuh dari batang hidungku.
Namun ada satu pertanyaanku padamu yang belum sempat aku sampaikan padamu.
Apakah dia memang benar untukmu?
Sampai hari kemarin aku belum menemukan jawabannya. Aku hanya berpikir,'Ah, asalkan kamu bahagia, apapun boleh.' Dan aku hanya tersenyum simpul sesudah pikiran itu lewat. Sampai hari ini dan seterusnya, aku yakin, aku hanya akan jadi teman masa kecilmu. Hanya akan melihatmu dari belakang, memandang pundakmu itu disentuh dan digapai tangan lelakimu itu. Hanya akan melihat kamu menikah dengannya dan mendapatkan keturunan yang menggemaskan yang akan memanggilku dengan 'Oom' dan bukan 'Ayah'. Hanya melihatmu menjadi tua dan renta di sampingnya dan tersenyum hingga ajal datang menjemputmu. Aku dapat menerima itu apa adanya karena aku selalu berpikir itu semua demi kebahagiaan orang yang aku cintai.
Sampai hari kemarin ketika aku menemukan kamu meregang nyawa di rumah sakit karena kecelakaan yang melibatkanmu dan 'pangeran'mu itu.
Sampai hari kemarin aku terus menerus menahan rasa cinta padamu dan membiarkanmu di bawa lelaki itu.
Dan tepat kemarin aku menemukan jawabannya.
Dia tidak tepat untukmu.
Namun aku terlambat.
Kini kamu sudah tenang di sana, tanpa dia, tanpa aku, tanpa siapa pun. Aku tak bisa membayangkan betapa sunyinya duniaku ini tanpa gelak tawamu, tanpa semua kisahmu tentang dia, tentang sekolah, tentang saudara, tentang kita dulu.
Sejak hari kemarin aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku tak berani mengubah diriku demi kamu? Mengapa?
Sejak hari ini hingga seterusnya, aku hanya akan jadi sahabat masa kecilmu.
Sejak hari ini hingga selamanya, kamu akan terlelap dan aku akan membisu.
Dan sejak saat ini hingga selamanya, cintaku lebur menjadi debu.
.
Kalau aku ingat-ingat, itu pertama kalinya aku melihat senyum itu terukir di wajahmu. Senyum termanis yang pernah aku lihat dalam kamu. Aku tidak bisa mengerti juga, mengapa sejak saat itu aku mulai mencinta dan mendambamu. Kurasa ini tidak salah; tentu saja ini tidak salah. Aku lelaki dan kamu wanita; mana yang salah? Lalu aku menemukan fakta jika kamu bukanlah milikku. Meski kita sudah memupuk berbagai kenangan indah berdua saat kita masih kecil, saat aku mulai menjadi anak jahil di sekolah dan kamu selalu saja menolongku saat ada masalah, saat kamu menangis dan aku ada dan begitu sebaliknya, namun urusan hati siapa yang dapat menduga?
Karena rupanya aku bukanlah pangeranmu, iya`kan?
Karena hanya jika kamu di sisinya kamu dapat tertawa selepas itu, tersenyum dan menangis lebih dari yang aku tahu. Jadi itu kekuatan cinta yang telah menyatu? Bahkan aku merasa tersentuh dan nyaris jadi abu. Dalam hati aku bertanya, apa standarmu terhadap seorang pria? Ia tampan melebihi aku, itu aku mengerti. Ia baik dan tidak jahil, berbanding terbalik denganku`kan? Ia tinggi tegap, sosok idaman para kaum hawa, tidak seperti aku yang berbeda 10 cm dengannya, dengan kacamata yang siap jatuh dari batang hidungku.
Namun ada satu pertanyaanku padamu yang belum sempat aku sampaikan padamu.
Apakah dia memang benar untukmu?
Sampai hari kemarin aku belum menemukan jawabannya. Aku hanya berpikir,'Ah, asalkan kamu bahagia, apapun boleh.' Dan aku hanya tersenyum simpul sesudah pikiran itu lewat. Sampai hari ini dan seterusnya, aku yakin, aku hanya akan jadi teman masa kecilmu. Hanya akan melihatmu dari belakang, memandang pundakmu itu disentuh dan digapai tangan lelakimu itu. Hanya akan melihat kamu menikah dengannya dan mendapatkan keturunan yang menggemaskan yang akan memanggilku dengan 'Oom' dan bukan 'Ayah'. Hanya melihatmu menjadi tua dan renta di sampingnya dan tersenyum hingga ajal datang menjemputmu. Aku dapat menerima itu apa adanya karena aku selalu berpikir itu semua demi kebahagiaan orang yang aku cintai.
Sampai hari kemarin ketika aku menemukan kamu meregang nyawa di rumah sakit karena kecelakaan yang melibatkanmu dan 'pangeran'mu itu.
Sampai hari kemarin aku terus menerus menahan rasa cinta padamu dan membiarkanmu di bawa lelaki itu.
Dan tepat kemarin aku menemukan jawabannya.
Dia tidak tepat untukmu.
Namun aku terlambat.
Kini kamu sudah tenang di sana, tanpa dia, tanpa aku, tanpa siapa pun. Aku tak bisa membayangkan betapa sunyinya duniaku ini tanpa gelak tawamu, tanpa semua kisahmu tentang dia, tentang sekolah, tentang saudara, tentang kita dulu.
Sejak hari kemarin aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku tak berani mengubah diriku demi kamu? Mengapa?
Sejak hari ini hingga seterusnya, aku hanya akan jadi sahabat masa kecilmu.
Sejak hari ini hingga selamanya, kamu akan terlelap dan aku akan membisu.
Dan sejak saat ini hingga selamanya, cintaku lebur menjadi debu.
Subscribe to:
Comments (Atom)




