Friday, 17 May 2013

Kopi dan Soda Gembira

Diposkan oleh Unknown
.
.
Hari ini aku ingin mengatakan padanya sebelum aku pergi  kalau aku mencintainya.
.
.
"Halo, halo."
Kamu tertawa di depanku sekarang. Ternyata lawakan basiku masih mempan juga padamu. Sekarang, aku dan kamu, kita saling duduk berhadapan. Saling menatap dan memperhatikan. Meneliti setiap inci dari anggota tubuh kita masing-masing.

"Halo juga." Giliran aku yang terkikik. Kamu ternyata masih mau membalas lawakan basiku. Tanpa sadar semburat merah itu merekah di pipimu. Ya, kamu yang dulu selalu jadi jagoan di sekolah dan terlihat tampan setiap melangkah. Jemarimu yang lentik memainkan piano dan gitar, bahkan biola, yang tiba-tiba menjadi kasar ketika kamu bermain basket di lapangan belakang sekolah. Tawamu yang renyah dan menggemaskan, membuat para gadis di kelas berteriak dengan riang. Kamu yang nyaris sempurna namun tidak peka atas perasaan. Pantas saja dulu kamu belum punya pacar.

"Pertanyaanku dari dulu sampai sekarang masih sama. Makhluk nyaris sempurna, kamu anak siapa, sih?" Aku memulai pembicaraan ini dengan santai. Ketegangan di wajahmu memudar perlahan dan tergantikan oleh ekspresi yang aku rindukan. Ekspresi sombongmu itu.
"Mungkin sebenarnya aku adalah anak dari Thor, tapi lalu aku dibuang dan jatuh di rumah orang tuaku. Atau sebenarnya orang tuaku itu Athena dan Poseidon yang menyamar. Eh, atau aku ini sebenarnya master piece dari Leonardo Da Vinci yang terkubur dalam es lalu dihangatkan, dan sebenarnya keberadaanku dirahasiakan."

 Ya, seperti biasa, kadar mengacaumu di luar ambang batas kewarasan. Aku tertawa-tawa mendengarkan omongan absurdmu. Entah kenapa, mendengarkanmu berbicara membuatku mengenang masa-masa SMP kita. Kamu selalu bicara hal-hal lucu dan garing, namun beberapa saat kemudian kamu menjadi sangat bijaksana dan -kalau boleh kuakui- kamu keren. Rambutmu bisa dibilang rambut standar anak lelaki. Poni samping. Kamu senang sekali meniup-niup ponimu itu. Menggemaskan.

Aku masih ingat waktu kita mengadakan acara pelepasan bersama dengan anak kelas tujuh dan delapan. Kamu berdiri di barisan kelas tujuh dan menyanyikan lagu More Than Word dengan sangat menghayati. Bukan cuma kamu saja yang bernyanyi, masih ada beberapa anak kelas kita ikut berpartisipasi juga, namun semua sadar jika memang kamu yang jadi sorotan.
Hanya saja kamu kurang peka.

"Rambutmu masih aja kriwil-kriwil gitu. Persis mie goreng pinggir jalan." Aku tersenyum. "Menghina atau memuji, ya?" balasku sambil menyeduh kopi hitam di hadapanku. Kamu tertawa. "Dua-duanya. Ya ampun, kamu cewek tapi suka ngopi, ya?"Kamu bertanya sembari meraih gelas dihadapanmu."Iya, daripada kamu, cowok tapi sukanya soda gembira." Seketika itu juga kamu tersedak, dan tentu saja aku tak bisa menutupi gelak tawa melihat ekspresimu.

"Soda gembira itu enak. Kopi itu pahit. Kamu bandingin aja rasanya." ujarmu sambil mengudak-udak soda gembiramu itu dengan sedotan. Sifatmu memang seperti soda gembira. Kamu selalu bahagia, ceria, menyenangkan, namun jika ada hal yang tidak beres, kamu akan memilah-milah dulu, persis seperti soda dan susu serta sirup sebelum dicampur, atau ketika susu dan sirup itu mengendap di bawah.


"Sudah punya pacar?" Kamu kembali tersedak. Aku tertawa dan memberikanmu sehelai tisu. "Bisa tidak kamu nggak bertanya hal begituan?" Kembali senyum terukir di wajahku. "Kenapa? Malu? Pacarnya jelek? Atau... hatimu itu masih perjaka?" Haha! Aku kembali melihatmu mengumpat dengan wajah super merah. "Oke, yang terakhir itu memang kelewatan, tapi kembali ke topik. Bagaimana?" Kamu terdiam seketika dan menatapku dengan malu-malu.
"Ayolah, kamu sudah kuanggap adik sendiri!" Mendengarnya kamu malah tertawa. "Nggak! Jadi temen sekelas aja sudah repot, gimana kalau jadi adik?" Aku tertawa enggan. "Kamu kejam." balasku pendek. Dasar lelaki tampan dan nyaris sempurna.
Sayang kamu kurang peka.

"Jawab pertanyaanku!" Aku mulai main perintah, namun tentu saja maksudnya bercanda. Mana mungkin aku melukai lelaki di hadapanku ini. Lelaki yang lebih muda dariku sekitar enam bulan, lelaki yang berhasil memenangkan sayembara yang berhadiahkan hatiku tanpa menyadarinya sama sekali. Entah sudah berapa kali sejak SMP aku berusaha memberimu sinyal, namun kamu tidak bisa mengerti.
Kembali kamu terdiam dan tersenyum malu. Sambil memalingkan wajahmu yang memerah kamu menjawab,"Sudah." Jawabanmu pendek, namun berhasil meruntuhkan benteng Takeshi milikku.

Aku menatapmu dengan nanar, namun berubah kembali karena aku tak mau menyakiti hatimu. "Oh, wow. Selamat, ya?" Kamu hanya tersenyum dengan wajah memerah. Dasar tidak peka, sungguh aku gemas padamu.


"Ada yang mau aku bicarakan sebelum aku berangkat ke Norwegia." Akhirnya aku menuju ke topik yang sesungguhnya. Kuluruskan punggungku terlebih dahulu supaaya menjadi lebih rileks. Kamu meminum soda gembiramu lagi. "Apa?" Sebuah pertanyaan klise itu terlontar dari mulutmu. Aku tersenyum. Sebenarnya...
"Aku mencintaimu."
Kamu tertegun dan menjadi patung. Aku sudah menebak reaksimu itu.
"Tapi dulu." Aku berbohong untuk membuatmu merasa nyaman kembali.
"Vera..." Suaramu dipenuhi keresahan ketika memanggil namaku. Aku tertawa. "Mikha, kamu kenapa, sih? Aku kan bilang kalau itu sudah dulu sekali! Aku mau bicara begitu supaya aku dapat ke Norwegia dengan tenang. Aku akan menetap di sana dan tidak akan kembali lagi, makanya aku ingin menungkapkan perasaanku dulu."
 Tapi secerewet apapun aku, ekspresimu tetap sama. Kaget, resah, dan agak malu. Sungguh, aku benci ketika tahu akan jadi begini.

"Mikha..." Aku memanggil namamu dengan suara yang lemah. Kamu justru menatapku dengan tajam. Tiba-tiba handphonemu bergetar dan sebuah panggilan masuk. Tentu saja dari kekasihmu `kan, siapa lagi?
Kamu melihat jam dan sadar jika waktu kita telah habis. Waktu yang seharusnya kuhabiskan dengan kamu, Mikha, jadi terbuang sia-sia begitu panggilan itu masuk.

"Vera, aku harus pergi." Aku mengangguk. "Sampaikan salamku ke pacarmu, ya." ujarku menambahkan perasaan pedih di hatiku. Kamu menggeleng dan melangkahkan kaki mendekatiku, tanpa kusangka kamu akan memelukku dengan begitu erat dan hangat. "Vera, Vera..." Kamu bergumam dengan suara tak jelas. "Iya, iya." jawabku pendek. Aku dapat merasakan detak jantungmu, aku dapat mencium bau khasmu, bau khas anak laki-laki. Rambutmu menggelitik ujung telingaku. Harum. Wajahku terbenam di pundakmu dan air mata turun perlahan. Cukup setetes saja. Rasanya ingin begini selamanya.

"Vera, kalau kamu bilang lebih dulu mungkin akhirnya tidak seperti ini."
Ya, memang tidak seperti ini yang kuharapkan, Mikha. Bukan aku yang terbenam di pelukanmu dan menangis. Bukan kamu yang terlihat canggung setelah aku mengatakan perasaanku. Bukan kita yang kini benar-benar dekat namun menjadi benar-benar jauh.

Tapi ini yang harus terjadi padaku dan kamu. Pada kita.
Jadi diamlah dan biarkan waktu mengalir. Biarlah hening menemani kita dulu.
Biarlah secangkir kopi dan soda gembira saja yang tahu.



0 komentar:

 

Tired Fangirl Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos