.
.
Kalau aku ingat-ingat, itu pertama kalinya aku melihat senyum itu terukir di wajahmu. Senyum termanis yang pernah aku lihat dalam kamu. Aku tidak bisa mengerti juga, mengapa sejak saat itu aku mulai mencinta dan mendambamu. Kurasa ini tidak salah; tentu saja ini tidak salah. Aku lelaki dan kamu wanita; mana yang salah? Lalu aku menemukan fakta jika kamu bukanlah milikku. Meski kita sudah memupuk berbagai kenangan indah berdua saat kita masih kecil, saat aku mulai menjadi anak jahil di sekolah dan kamu selalu saja menolongku saat ada masalah, saat kamu menangis dan aku ada dan begitu sebaliknya, namun urusan hati siapa yang dapat menduga?
Karena rupanya aku bukanlah pangeranmu, iya`kan?
Karena hanya jika kamu di sisinya kamu dapat tertawa selepas itu, tersenyum dan menangis lebih dari yang aku tahu. Jadi itu kekuatan cinta yang telah menyatu? Bahkan aku merasa tersentuh dan nyaris jadi abu. Dalam hati aku bertanya, apa standarmu terhadap seorang pria? Ia tampan melebihi aku, itu aku mengerti. Ia baik dan tidak jahil, berbanding terbalik denganku`kan? Ia tinggi tegap, sosok idaman para kaum hawa, tidak seperti aku yang berbeda 10 cm dengannya, dengan kacamata yang siap jatuh dari batang hidungku.
Namun ada satu pertanyaanku padamu yang belum sempat aku sampaikan padamu.
Apakah dia memang benar untukmu?
Sampai hari kemarin aku belum menemukan jawabannya. Aku hanya berpikir,'Ah, asalkan kamu bahagia, apapun boleh.' Dan aku hanya tersenyum simpul sesudah pikiran itu lewat. Sampai hari ini dan seterusnya, aku yakin, aku hanya akan jadi teman masa kecilmu. Hanya akan melihatmu dari belakang, memandang pundakmu itu disentuh dan digapai tangan lelakimu itu. Hanya akan melihat kamu menikah dengannya dan mendapatkan keturunan yang menggemaskan yang akan memanggilku dengan 'Oom' dan bukan 'Ayah'. Hanya melihatmu menjadi tua dan renta di sampingnya dan tersenyum hingga ajal datang menjemputmu. Aku dapat menerima itu apa adanya karena aku selalu berpikir itu semua demi kebahagiaan orang yang aku cintai.
Sampai hari kemarin ketika aku menemukan kamu meregang nyawa di rumah sakit karena kecelakaan yang melibatkanmu dan 'pangeran'mu itu.
Sampai hari kemarin aku terus menerus menahan rasa cinta padamu dan membiarkanmu di bawa lelaki itu.
Dan tepat kemarin aku menemukan jawabannya.
Dia tidak tepat untukmu.
Namun aku terlambat.
Kini kamu sudah tenang di sana, tanpa dia, tanpa aku, tanpa siapa pun. Aku tak bisa membayangkan betapa sunyinya duniaku ini tanpa gelak tawamu, tanpa semua kisahmu tentang dia, tentang sekolah, tentang saudara, tentang kita dulu.
Sejak hari kemarin aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku tak berani mengubah diriku demi kamu? Mengapa?
Sejak hari ini hingga seterusnya, aku hanya akan jadi sahabat masa kecilmu.
Sejak hari ini hingga selamanya, kamu akan terlelap dan aku akan membisu.
Dan sejak saat ini hingga selamanya, cintaku lebur menjadi debu.
Sunday, 5 May 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment